Anak kecil
Seorang anak kecil terbiar sendiri,
Ditelan sepi,
Musik-musik kehidupan hingar meliputi
Namun jiwanya kosong,
Dan ia tetap sendiri..
Seorang anak kecil,
Membawa anak kunci,
Dari pintu kehidupan nan sunyi,
Menembus lorong-lorong cinta yang sepi.
Membuka bilik-bilik asa yang hampa …
Dan anak kecil itu terus dan terus mencari sendiri…
Bulan yang ditanya tak tahu dimana bunda,
Bintang-bintangpun tak punya jawab dimana ayah berada..
Dan anak kecil itu terus berjalan sendiri
Menembus sepi dan sunyi seorang diri
Al-faqiir
(ya Allah ya Rabb.. pemilik segala cinta .. jauhkan buah hatiku dari situasi semacam itu, jangan biarkan mereka sendirian membawa ‘anak kunci’ dari kehampaan… Rengkuh mereka dalam kehangatan cintaMU, dekap dan peluk erat mereka dalam RahmatMu)
Selasa, 22 September 2009
Sabtu, 22 Agustus 2009
Taman Hati
Kemarau, kering, gersang dan panas adalah sebuah fenomena alam yang siklusnya akan
selalu datang pada setiap masa.
Betapa manusia banyak direpotkan oleh datangnya musim itu. Akibat buruk yang ditimbulkanpun membuat manusia kalang kabut menanggungnya. Sumber-sumber mata air mengering, tumbuh-tumbuhan panas meranggas, tanah tempat berpijak pecah merekah. Tangis pilu petani menyayat hati, panen yang lama dinanti tak jua bisa dinikmati.
Oleh karenanya, seiring datangnya siklus musim, membuat manusia dengan cerdas mengantisipasi bilamana saat musim tertentu tiba. Bila datang musim hujan, padi ditanam melimpah, lumbung-lumbung padi penuh terisi. Air ditampung dengan segala daya upaya agar tak sampai dahaga mendera.
Ironinya, ada satu fenomena yang sering luput kita cermati, yaitu kemarau dan tandus pada ‘taman hati’. Padahal akibat yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat. Tandusnya hati tentu akan melemahkan akar-akar kejujuran, menggugurkan helai demi helai daun-daun keikhlasan dan melayukan bunga-bunga kesabaran dan bahkan dapat mematikan rasa ‘khauf’ pada Illahi.
Panas dan keringnya ‘taman hati’ dengan mudah menyulut api ujub, riya dan takabur. Kobarannya akan mudah merembet dan melalap segala amalan yang ada.
Hati yang mengalami kemarau tentu akan menjadi tandus dari rasa cinta (yang sejati tentu hanya miliki Illahi).
Gersangnya ‘taman hati’ tak pula cepat dicari cara untuk merindangkan kembali, sebab kita sering sibuk mengamati rumput-rumput kering yang ada ditaman tetangga. Dan sebatas menikmati indanya taman rindang milik orang lain. “taman hati” yang kita miliki sering tak rapi terawat, padahal ia sangat butuh sentuhan lembut tangan pemiliknya. Ia menunggu rajin disiram dengan air keimanan, dan dipupuk dengan cinta kasih pada sesama.Dan terus ditanami dengan tunas-tunas kebaikan. Dan sebaik-baik penjaga dan perawat 'taman hati' adalah masing-masing diri dengan pertolongan Allah tentunya.
Ya allah..
Bila 'taman hati'ku kering, beri kesempatan aku merawatnya kembali..
Ampuni daku yang sering lalai menyiangi rumput-rumput liar kemalasan dan kesombongan pengganggu bagi kesuburan pohon-pohon iman ditaman hatiku.
Ya Rabb ya Rahman...
Pemilik seluruh taman, andai aku boleh memiliki taman-Mu,
Izinkan taman Firdaus ada di 'taman hati' ku...
"Hidup adalah sebuah kenyataan, dan mati adalah satu-satunya jalan pulang, maka iman dan taqwa adalah pilihan"
al-faqiir
Kemarau, kering, gersang dan panas adalah sebuah fenomena alam yang siklusnya akan
selalu datang pada setiap masa.
Betapa manusia banyak direpotkan oleh datangnya musim itu. Akibat buruk yang ditimbulkanpun membuat manusia kalang kabut menanggungnya. Sumber-sumber mata air mengering, tumbuh-tumbuhan panas meranggas, tanah tempat berpijak pecah merekah. Tangis pilu petani menyayat hati, panen yang lama dinanti tak jua bisa dinikmati.
Oleh karenanya, seiring datangnya siklus musim, membuat manusia dengan cerdas mengantisipasi bilamana saat musim tertentu tiba. Bila datang musim hujan, padi ditanam melimpah, lumbung-lumbung padi penuh terisi. Air ditampung dengan segala daya upaya agar tak sampai dahaga mendera.
Ironinya, ada satu fenomena yang sering luput kita cermati, yaitu kemarau dan tandus pada ‘taman hati’. Padahal akibat yang ditimbulkan jauh lebih dahsyat. Tandusnya hati tentu akan melemahkan akar-akar kejujuran, menggugurkan helai demi helai daun-daun keikhlasan dan melayukan bunga-bunga kesabaran dan bahkan dapat mematikan rasa ‘khauf’ pada Illahi.
Panas dan keringnya ‘taman hati’ dengan mudah menyulut api ujub, riya dan takabur. Kobarannya akan mudah merembet dan melalap segala amalan yang ada.
Hati yang mengalami kemarau tentu akan menjadi tandus dari rasa cinta (yang sejati tentu hanya miliki Illahi).
Gersangnya ‘taman hati’ tak pula cepat dicari cara untuk merindangkan kembali, sebab kita sering sibuk mengamati rumput-rumput kering yang ada ditaman tetangga. Dan sebatas menikmati indanya taman rindang milik orang lain. “taman hati” yang kita miliki sering tak rapi terawat, padahal ia sangat butuh sentuhan lembut tangan pemiliknya. Ia menunggu rajin disiram dengan air keimanan, dan dipupuk dengan cinta kasih pada sesama.Dan terus ditanami dengan tunas-tunas kebaikan. Dan sebaik-baik penjaga dan perawat 'taman hati' adalah masing-masing diri dengan pertolongan Allah tentunya.
Ya allah..
Bila 'taman hati'ku kering, beri kesempatan aku merawatnya kembali..
Ampuni daku yang sering lalai menyiangi rumput-rumput liar kemalasan dan kesombongan pengganggu bagi kesuburan pohon-pohon iman ditaman hatiku.
Ya Rabb ya Rahman...
Pemilik seluruh taman, andai aku boleh memiliki taman-Mu,
Izinkan taman Firdaus ada di 'taman hati' ku...
"Hidup adalah sebuah kenyataan, dan mati adalah satu-satunya jalan pulang, maka iman dan taqwa adalah pilihan"
al-faqiir
Relaksasi Jiwa
Sejenak mari kita merenung, kita tundukkan kepala dengan penuh kerendahan hati, kita rehatkan semua sendi dari raga kita akan aktifitas duniawi, Untuk sejenak bersama-sama tafakkur dan merenungi salah satu ayat Allah, diantara ribuan tanda2 kebesaran Allah yang ada. Agar kita semakin menyadari keberadaan diri kita yang bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya dibanding kebesaranNya.
Untaian kata ini, sebetulnya adalah sebuah nasehat untuk diri saya, suatu usaha intropeksi dan peringatan yang begitu saya sadari, berlumur banyak dosa dan kekhilafan. Semoga perenungan ini menjadi sebuah relaksasi yang akan membuat sebuah kesadaran dan langkah untuk menuju kebaikan, amin.
Tiada kata puja, patut tercurah, kecuali pada Dzat sang pemilik segala. Dzat yang memimpin seluruh jiwa tunduk dalam aturanNYA. Zat yang merajai alam semesta, dzat yang mampu menggerakkan angin berdesir sepoi memikat, atau mengubahnya menjadi garang menyapu seluruh isi bumi yang ada dan melumatkan menjadi serpih tak bersisa. Dzat dimana seluruh jiwa menghamba, tunduk patuh pada keagnganNYA, kecuali bagi mereka yang ingkar dan lalai dari mana dia berasal dan kemana pula kelak jiwa berpulang.
Yang selalu pula harus kita ingat pada setiap saat kata berucap, adalah sholawat, semoga senantiasa mengalir deras tercurah, pada junjungan kita, Nabi pembawa berita gembira, pemimpin berhati lembut dan berakhlaq qur’any. Penerang dalam gelap nan pekat, pemilik segala syafaat, pada hari dimana tak ada lagi pertolongan kecuali Allah dan RasulNYA semata, yaitu baginda Nabi agung Muhammad S.a.w
Begitu rapinya Allah mengatur waktu bagi kita, alangkah indahnya hidup ini dalam perhitungan Allah. Setiap hari rutin 24 jam. Sejak terbukanya mata setelah sejenak kita dimatikan diwaktu malam. Masa berlalu begitu cepat, terlalu banyak pula yang ingin kita kejar tanpa disadari, banyak pula yang terabaikan.
Saya, atau mungkin kita, sering terlena dibuai oleh banyaknya tawaran kehidupan yang begitu indah menawan.
Dalam kesombongan saya sebagai manusia, saya sering lalai dan mengabaikan akan datangnya suatu masa. Yaitu masa dimana akan datang ‘tamu’ yang hadirnya tak pernah mengetuk pintu, atau menyampaikan dahulu khabar kedatangannya. Tamu yang tak pernah memilih siapa-siapa dahulu yang akan dikunjunginya. Tamu yang mampu memutus jalan kehidupan yang penuh kerlap-kerlip gemerlap, mendadak gelap, sepi dan mencekam. Tamu yang bisa mengubah tawa ceria menjadi tangis pilu menyayat kalbu Dan tamu itu tak lain adalah malaikat Izroil, yang didelegasikan Allah untuk mengakhiri kontrak hidup kita didunia. Dengan perintah Allah, malaikat maut bisa tamatkan cita-cita manusia yang memiliki sejuta impian yang hebat, menjadi kandas tak berbekas hanya dengan maut. Maut pula yang akan menukar manusia dari dunia indahnya, penuh kawan setia, pembantu dan pegawai yang berdedikasi tingg- padanya, menuju ruang sempit, sunyi, gelap dan menakutkan dan semua meninggalkannya sendiri. Dalam penantian penuh cemas akan datangnya munkar dan nakir menjumpai dan menanyakan seluruh amalan.
Oleh karenanya, sebelum kita terlupa, pada hari yang pasti datangnya, juga tamu yang tak bisa kita tolak kehadirannya yaitu ‘maut’ maka sebelum nyawa berakhir dipenghujung kehidupan, marilah kita perbaiki diri.
- Sekiranya kita merasa diri ini jauh dari Allah, mari kita dekati, karena Allah akan membalasnya dengan berlari andai kita hanya mampu berjalan kearah NYA.
- Sekiranya kita merasa diri ini lalai dari Allah, mari kita mulai ingat, karena dengan mengingatlah hati menjadi tenang dan damai, bila kita selalu dirundung gundah dan gulana.
- Sekiranya diri kita merasa kotor dengan dosa dan kekhilafan, mari kita bertaubat, kita basuh dan sucikan diri dengan amalan-amalan kebaikan.
Jangan biarkan Izroil datang mendahului kita yang baru memiliki keinginan, sementara maut datang lebih awal sebelum kita sempat mewujudkannya. Karena tidak ada pertobatan setelah ajal menjelang, segalanya terputus tak bersisa kecuali 3 perkara yang kita pernah punya, amal/sodaqoh kita, ilmu yang bermanfaat yang diamalkannya serta doa anak sholeh kita.
Barangkali waktu kita tidak banyak, walau kita harus optimis memohon pada sang pemilik jiwa, Allah azza wajalla agar kesempatan kita didunia ini ditambah, usia kita dipanjangkan, sehingga kita bisa mengukirnya dengan pahatan-pahatan amal saleh dan kebaikan.
Kesempatan yang ada ini, mari kita gunakan untuk melakukan upaya penyembuhan manakala hati kita ada yang sakit.
Sebagaimana kita selalu mengupayakan kesembuhan, saat fisik kita mengalamai gangguan penyakit. Kemana pun tempat kita datangi, berapa banyak uang keluar, kita tak peduli, demi obat dan kesembuhan diri. Padahal penyakit fisik hanya memberi efek dan pengaruh pada orang itu saja atau 1 orang saja, atau kalaupun menular hanya pada segelintir orang. Sementara penyakit hati, begitu mudah menular dan menjalar bagai endemi, yang bisa melumpuhkan seluruh sendi-sendi kehidupan, baik keluarga, masyarakat bahkan bangsa. Ketaatan pada Allah ta’ala merupakan satu-satunya tindakan pencegahan, untuk menjaga kesehatan hati kita, insyaallah.
Mari kita persembahkan sisa umur dan hidup kita untuk segala yang terbaik menurut Allah. Sedang untuk itu hanya butuh satu tekad dan sejumlah sikap istiqomah. Sebab intisari dari kedua hal itu akan membuahkan hasil yang terbaik untuk dunia dan akhira..
Kematian adalah sebuah kenyataan yang tak seorangpun bisa mengelaknya atau menghalangi datangnya, serta tak ada cara apapun untuk menghindar dan melewatinya.
Karena dalam firmanNYA dalam surat Al-anbiyaa 34-35 Allah tegas mengatakan :
“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad) maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan(yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada KAMI lah kamu dikembalikan”
Tak seorangpun tahu, dimanapun tempat kembalinya yang abadi. Adakah syurga nan elok mempesona atau neraka yang panasnya tak ada perumpamaan yang bisa untuk menyamakannya.
Hidup didunia ini, sangat fana dan sementara, maka tidak semestinya kita pertaruhkan seluruh jiwa raga kita untuk mereguk kesenangannya, sebab pasti segalanya akan berakhir.
Ya Allah,
Yang maha pengampun, kami datang padamu dengan setulus permohonan dan sesungguh-sungguhnya permintaan, kami ingin hidup kami berubah, gantikan segala keburukan menjadi kebaikan dalam pandanganMU.
Ya Allah,
Panjangkan umur kami dengan kemanfaatan, dan jadikan jalan yang kami lalui adalah jalan jihad penuh ridloMU,
Ya Allah, ampuni ibu, bapak kami atas segala dosa-dosa kami dan selamatkan dari panasnya api neraka dan sayangi keduanya, sebagaimana keduanya menyayangi kami disaat kami belia.
Ya Allah, bila tiba saatnya kau sudahi kesempatan kami menatap dunia dan kehidupan, ambilah nyawa kami dengan khusnul khotimah.
Ya Allah,
Terimalah munajat kami, walau kami penuh dosa tak berbilang, namun pada siapa kami meminta ampunan, kecuali kau zat yang maha menerima taubat,
Rabbanaa laa tujigh quluubanaa ba’da id hadaitanaa wahamilnaa min ladunka rahmatan.
Maaf atas segala khilaf, dan terpelesetnya lidah, semata apa yang saya sampaikan adalah sebuah koreksi diri, peringatan diri, semoga langkah kedepan jauh lebih indah dimata ALLAH, amin.
Al-Faqiir
Z.Trihastuti
Kamis, 19 Februari 2009
pintu surga
SEJENAK KITA MERENUNG...
Meringkuk aku dikehangatan cinta bunda,
dalam hitungan bulan tak berbilang..
Sedang ia dirundung payah tanpa kesah……..
Berayun aku sepanjang mata terjaga,
Berayun aku sepanjang mata terjaga,
dalam dekap hangat bunda sambil berdendang….
Sementara ia diliput penat tiada kepalang….
Ketika aku dipeluk mimpi dalam selimut malam,
air mata bunda tumpah hingga dipenghujung malam sembari do’a-do’a terpanjat…
Dalam munajat panjang tak berujung, ada namaku tak putus disebut…
Ketika kunikmati canda,
Ayah bermandi peluh,
raganya aus sarat beban menggelayut…
Uzur dimakan waktu dan kehidupan….
demi aku selaksa harap tercurah…
Kini derap-derap kakiku makin kokoh dan kuat,
Sedang ayah dan bunda kian lemah dinanti senja…
Bunda,Ingin bisa kuhiasi senjamu dengan bulan bulat dan berjuta bintang,
Agar malammu bilamana tiba tak jadi temaram.
Ayah,Ingin kulukiskan untukmu guratan indah dengan jemariku yang lentur karena kau bimbing aku dengan cinta dan kehangatan.
Sedalam laut dijajaki, tak jua dasar cinta ayah bunda ditemui,
Begitu dalam kasihmu tanpa ujung.
Sejuta kata kuhadirkan tuk menuangkan cintamu,
tak akan mampu kalimat melukiskanLaksa cintamu…..
Dan aku kehabisan kata,
Tinggal jalinan do’a tak lepas terajut.
Dan aku kan menemani senjamu dengan baktiku…
(Tulisan ini mengalir tanpa bisa kubendung, saat aku sendiri dimalam sepi ditemani bulan bulat merenungi rentetan lembar kehidupan yang kulewati. Betapa banyak hal yang belum bisa kulakukan untuk kedua orang tuaku yang telah mewarnai banyak goresan indah di kanvas kehidupanku...
Aku tersadar, sudah jauh jalan kulalui, beribu mil jarak kujajaki, namun belum banyak waktuku kupersembahkan menemani hari-hari senjamu....
Ya Allah...andai aku boleh meminta, beri cahaya bulan dan hiasi beribu bintang dimalam milik keduanya...dengan bulan bulatmu nan penuh rahmat dan bintangmu yang laksa karunia dan nikmat.
Semoga segala penjuru pintu surgamu kau buka lebar untuk mereka.
Rabighfirlii waliwaalidaiyya warhamhumaa kamaa rabbayaanii saghiiraa.amin
Salam
Z.Trihastuti
Langganan:
Postingan (Atom)
